Minggu, 07 November 2010

PENDUGAAN UMUR ORANGUTAN (Pongo pygmaeus)

 Picture Source: Dewi Sahidi (2008)

Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang hidup pada tempat dan waktu yang sama dan mampu berkembang biak untuk mempertahankan eksistensinya. Di dalam populasi terdapat sex ratio, struktur umur, kelahiran, kematian, imigrasi, dan emigrasi. Sex ratio dan kelas umur merupakan faktor-faktor penentu kelahiran. Dari kelas umur tertentu yang siap bereproduksi, maka suatu populasi dapat bertambah.

Upaya pelestarian satwa liar bertujuan agar jenis satwa liar terhindar dari kepunahan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengklasifikasikan suatu jenis satwa liar berdasarkan kelas umur yang siap bereproduksi dan telah matang secara seksual. Untuk melakukan pembagian kelas umur diperlukan suatu metode pendugaan kelas umur suatu jenis, agar dapat diperoleh perkiraan umur satwa dengan ciri-ciri morfologi maupun tingkah laku yang terdapat pada satwa.   

Orangutan merupakan satwa endemik Indonesia yang perkembangbiakannya sangat diperlukan untuk mempertahankan eksistensinya di dalam ekosistem. Sehingga beberapa ahli dalam bidang satwa liar orangutan, melakukan klasifikasi tingkat umur orangutan berdasarkan ciri-ciri morfologi dan tingkah laku.
Pendugaan umur orangutan merupakan suatu cara untuk memperkirakan umur orangutan, yang bertujuan untuk mengetahui minimum dan maksimum breeding age, yaitu usia minimal dan maksimal orangutan dapat menghasilkan keturunan.
Dengan adanya metode pendugaan umur, maka diharapkan orangutan dapat terhindar dari kepunahan.

MacKinnon (1974) dan Rijksen (1978) dalam Maple (1980) mengklasifikasikan kelas umur orangutan dalam tingkatan yang sama yaitu: bayi (infant), anak (juvenile), remaja (adolescent), jantan pra dewasa (sub adult male), betina dewasa (adult female), dan jantan dewasa (adult male). Tetapi perkiraan umur pada tiap tingkatan tersebut berbeda.

Galdikas (1984) mengklasifikasikan kelas umur orangutan dalam 9 tingkat, yaitu: bayi (infant), anak (juvenile), betina remaja (adolescent female), jantan remaja (adolescent male), jantan pra dewasa (sub adult male), betina umur muda, jantan umur muda, betina dewasa umur lanjut, dan jantan dewasa umur lanjut.

Klasifikasi kelas umur orangutan berdasarkan ketiga ahli tersebut menunjukkan bahwa tidak ada metode pendugaan umur yang baku untuk orangutan. Karena secara spesifik kriteria selang umur dan berat tubuh berbeda, meskipun secara umum kriteria untuk tiap tingkat berdasarkan ciri-ciri penampakan morfologi dan tingkah laku hampir sama. Perbedaan antara pengklasifikasian menurut Galdikas dengan MacKinnon dan Rijksen adalah Galdikas menambahkan kelas umur dewasa umur muda dan dewasa umur lanjut, serta memisahkan antara remaja jantan dengan betina.

Kelebihan dari metode pendugaan umur orangutan menurut MacKinnon, Rijksen, dan Galdikas adalah dapat menentukan perkiraan umur orangutan berdasarkan berat badan, ciri morfologi, dan tingkah laku. Metode ini juga membedakan kelas umur berdasarkan jenis kelamin. Sehingga dapat diketahui perbedaan perubahan morfologis dari pertumbuhan orangutan antara jantan dan betina. Metode ini dapat menjadi panduan untuk penangkaran orangutan, sehingga dari kelas umur produktif dapat dihasilkan keturunan baru. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar